POTENSI EKONOMI KERAJINAN GERABAH DI WILAYAH KELURAHAN PELUTAN
Pada Senin (22/07/2024) mahasiswa KKN Kelompok 68 UIN KH ABDURRAHMAN WAHID Pekalongan melakukan wawancara ke salah satu tempat potensi ekonomi di Kelurahan Pelutan yaitu Kerajinan gerabah (tembikar). Gerabah biasanya dibuat dengan tanah liat yang dibentuk kemudian dibakar untuk dijadikan alat-alat yang berguna bagi kehidupan sehari-hari manusia. Wawancara ini dilakukan supaya kita tahu bagaimana proses pembuatan gerabah. Bagi masyarakat Jawa, mereka kerap menyamakan antara tembikar dengan gerabah. Hal tersebut belum tentu salah dan belum tentu benar, sebab keduanya memang hampir sama, yakni sama-sama dibuat dengan tanah liat. Dalam hal perbedaan di antara keduanya, dapat dilihat dari sudut pandang tertentu.
Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gerabah adalah alat-alat dapur (untuk memasak dan sebagainya) yang dibuat dari tanah liat dan kemudian dibakar. Proses pengolahan tanah liat hingga pembakaran tersebut juga dilakukan dalam proses pembuatan tembikar. Kerajinan ini ternyata mulai dikenal masyarakat sejak ribuan tahun lalu, bahkan menurut data arkeologi menyebutkan juga bahwa keberadaan kerajinan ini telah ada sejak zaman prasejarah, terutama ketika manusia sudah mulai dapat bercocok tanam. contohnya adalah periuk, kendi, dan lain-lain.
Potensi gerabah di daerah pelutan terletak di RW 8 RT 5 yang merupakan usaha milik pribadi Bapak Suharno selaku Ketua Paguyuban Gerabah dan sudah berdiri sejak lama. Gerabah ini berasal dari nenek moyang turun temurun yang sudah ada dan dilestarikan sampai sekarang. Untuk proses pembuatan gerabah ini membutuhkan modal uang sebesar 6–7 juta rupah, sedangkan untuk bahan baku berupa tanah liat, juga membutuhkan tempat atau lahan sebagai tempat menyimpan gerabah serta peralatan pembuatan yang bisa bernilai sampai ratusan juta. Target pembuatan gerabah ini tidak ada target karena ada yang dijual harian maupun bulanan. Untuk target pemasaran gerabah menyesuaikan dengan variasi model gerabah yang di minta oleh konsumen. Paguyuban ini dapat menampung perkembangan yang ada dari pemasaran atau keinginan para konsumen yang bisa menerobos ke pasar. Pemasaran gerabah ini biasanya ke wilayah Pekalongan, Tegal dan Pemalang.
Variasi model gerabah itu ada bermacam-macam, diantaranya ada aksesoris halaman rumah/taman seperti vas bunga, air mancur, meja, dan kursi. Ada juga peralatan dapur, seperti cobek, kuali, dandang dan lain-lain yang masih banyak peminatnya sampai sekarang. Kerajinan gerabah ini harus terus dilestarikan karena merupakan warisan turun temurun yang masih banyak diminati oleh konsumen, namun generasi zaman sekarang tidak ada yang melestarikan kerajinan ini.